KUDUS — Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) kembali menggelar Pengajian rutin yang diikuti seluruh Badan Pengurus Harian (BPH), dosen, serta pegawai pada Senin (20/7/2026) pagi.
Bertempat di ruang Serbaguna 1 UMKU, pengajian kali ini mengusung tema “Spiritualitas Dhurriyyatan Thoyyibatan Menuju Kampus Berkemajuan” dengan dimoderatori oleh Ketua Program Studri (Kaprodi) S1 Teknik Industri UMKU, H. Nunung Agung Firmansyah, S.T., M.T.
Pengajian dibuka langsung oleh Rektor UMKU, Dr. H. Edy Soesatnto, S.Kp., M.Kes sekaligus memberikan sambutan.
Adapun narasumber kegiatan adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah (Jateng) sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Masrukhi mengungkapkan bahwa Dzurriyatan Thayyibah berasal dari dua kata Dzurriyah (keturunan, generasi, atau penerus) dan Thayyibah (baik, berkualitas, bersih, mulia, serta membawa keberkahan).
Dzurriyatan Thayyibah dapat dimaknai sebagai generasi penerus yang memiliki kualitas keimanan, keilmuan, akhlak, kesehatan, kecerdasan, serta mampu memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Konsep ini tidak semata-mata sebagai cita-cita pendidikan modern, tetapi merupakan bagian dari doa dan harapan para nabi serta orang-orang beriman yang diabadikan dalam Al-Qur’an,” ungkapnya.
Pihaknya melanjutkan, generasi Dzurriyatan Thayyibah memiliki karakteristik beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berilmu dan berprestasi, sehat jasmani dan rohani.
Kemudian memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial, serta mampu melanjutkan estafet perjuangan agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Lebih lanjut, Prof. Masrukhi menjelaskan konsep Pendidikan menurut pandangan Islam. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sesuai dengan fitrah penciptaannya sebagai hamba Allah swt (abdullah) dan sebagai khalifah di muka bumi (khalifatullah fil ardh).
“Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi luar biasa. Allah SWT membekali setiap manusia dengan akal, hati (qalb), ruh, dan fitrah yang harus dikembangkan melalui proses pendidikan yang benar,” ungkapnya.
“Pendidikan tidak hanya berorientasi pada keberhasilan akademik atau pencapaian materi, tetapi harus mengarahkan seluruh potensi manusia agar berkembang secara utuh (insan kamil),” imbuh Prof. Masrukhi menjelaskan.
Lalu membahas tentang Pendidikan Nasional, Prof. Masrukhi menjelaskan bahwa pendidikan nasional memiliki tujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.
Rumusan tujuan tersebut menunjukkan adanya keselarasan antara nilai-nilai Islam dan cita-cita pendidikan nasional.
Pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga warga negara yang memiliki integritas moral, rasa kebangsaan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap pembangunan bangsa.
“Pembentukan Dzurriyatan Thayyibah merupakan implementasi nyata dari tujuan pendidikan nasional yang diperkaya oleh nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Prof. Masrukhi juga menjelaskan tentang 5 pilar utama Dzurriyatan Thayyibah. Pertama, tauhid sebagai fondasi. Yaitu seluruh aktivitas pendidikan berorientasi pada penguatan keimanan dan penghambaan kepada Allah SWT.
Kedua, adab sebelum ilmu. Yaitu pembentukan akhlak dan karakter menjadi prioritas sebelum penguasaan pengetahuan.
Ketiga, ilmu yang bermanfaat. Setiap ilmu diarahkan untuk kemaslahatan umat dan pembangunan peradaban.
Keempat, kolaborasi lembaga, keluarga, dan masyarakat, yang menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama.
Kelima, perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Yaitu komitmen untuk terus meningkatkan mutu melalui inovasi, refleksi, dan evaluasi.
Sebelum mengakhiri pengajian, Prof. Masrukhi menjelaskan tentang karakteristik pendidikan berbasis Dhurriyyatan Thoyyibah.
Secara sadar membangun seluruh sistem pendidikan untuk melahirkan generasi yang bertauhid, berakhlak mulia, berilmu, sehat jasmani dan rohani, memiliki kecakapan hidup, serta mampu menjadi pemimpin yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Kampus tidak hanya dipahami sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi sebagai sebuah ekosistem pendidikan yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, cara beribadah, cara berinteraksi, dan cara berkarya civitas academica.
“Kampus memandang setiap mahasiswa sebagai amanah Allah SWT yang memiliki potensi fitrah. Tugas pendidikan adalah menemukan, mengembangkan, dan mengarahkan potensi tersebut agar tumbuh secara optimal melalui pembelajaran yang bermakna, pembiasaan yang baik, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung,” terangnya.
Prof. Masrukhi juga mengajak seluruh civitas academica UMKU untuk memperbanyak energi positif dibanding energi negatif. Di antaranya dengan jujur, sabar, murah hati, mudah memaafkan, bahagia, berani, rajin, bertanggung jawab, hingga kreatif. (NR)