KUDUS — Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) kembali menggelar Pengajian Rutin yang bertempat di Ruang Serbaguna 1 UMKU pada Senin, 6 Juli 2026.
Pengajian kali ini menghadirkan narasumber Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus sekaligus Dosen UIN Sunan Kudus, Dr. Muhammad In’ami, M.Ag. dengan moderator Ketua Halal Center UMKU, Muhammad Ridwanto, M.Gz.
Adapun tema pengajian pagi ini adalah “Membangun Kampus Berkah: Hijrah Akhlak, Profesionalisme, dan Kinerja Unggul dalam Perspektif Islam Berkemajuan”.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad In’ami mengawali kajian dengan mengupas hadis Nabi Muhammad SAW mengenai ketetapan takdir seorang manusia.
Ia menekankan bahwa segala bentuk pertolongan maupun rintangan yang dihadapi manusia pada hakikatnya bersumber dari izin dan ketetapan Allah SWT.
“Manfaat manusia terjadi karena izin dan ketetapan Allah,” tegasnya.
Dr. In’ami menyampaikan, manusia memang saling membantu, menolong, dan memberikan manfaat. Namun semuanya terjadi karena Allah yang menakdirkannya, memudahkan, dan menghilangkan kesulitan melalui hamba-Nya. Begitu pula tentang mudarat, semua karena izin Allah.
“Keimanan terhadap hadis ini melahirkan hati yang tenang, tawakal kepada Allah, tidak bergantung kepada makhluk, dan tidak takut secara berlebihan kepada manusia,” terangnya.
Kemudian Dr. In’ami menjelaskan, transformasi menuju “Kampus Berkah” harus dimulai dari perbaikan karakter atau hijrah akhlak seluruh civitas akademika.
Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan kualitas diri.
“Kita harus bermutasi dari yang semula lalai menjadi disiplin, dari egois menjadi kolaboratif, serta dari sekadar menggugurkan kewajiban menjadi bekerja secara ihsan yang membawa kemaslahatan nyata,” jelasnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai utama seperti jujur, amanah, tanggung jawab, rendah hati, dan peduli harus menjadi napas utama dalam pelayanan pendidikan.
Lebih lanjut, Wakil Ketua PDM Kudus ini membedah makna profesionalisme dari perspektif Islam.
Menurutnya, seorang profesional Muslim yang sejati wajib memadukan antara kompetensi teknis dan integritas moral (Amanah + Kompetensi). Profesionalisme tersebut diwujudkan melalui kerja optimal (itqan), akuntabilitas, komitmen mutu, dan efisiensi waktu.
Pihaknya menjelaskan, ada beberapa pilar kinerja unggul yang perlu diperhatikan civitas academica. Seperti tentang orientasi mutu, pelayanan prima, inovasi berkelanjutan, kolaborasi, dan perbaikan terus-menerus (continuous improvement).
Pilar-pilar inilah yang dinilai akan membentuk ekosistem positif, di mana bekerja tidak lagi dianggap sekadar mencari nafkah, melainkan sebagai bagian dari ibadah dan sarana membangun peradaban.
Di akhir kajian, Dr. In’ami memaparkan sejumlah indikator yang menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah institusi akademik dalam meraih keberkahan.
Indikator tersebut meliputi meningkatnya integritas, kepuasan layanan yang prima, melonjaknya produktivitas dosen dan tenaga kependidikan, serta bertambahnya prestasi mahasiswa dan inovasi.
“Kampus yang hebat adalah kampus yang mampu melahirkan lulusan berakhlak, profesional, dan bermanfaat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan,” katanya.
“Mari kita jadikan momentum ini untuk terus menumbuhkan semangat fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan,” pungkasnya. (NR)