Ketua PDM Kudus Ajak Civitas Academica UMKU Teladani ‘Spirit Haji’ untuk Bangun Peradaban

Pengajian yang berlangsung di ruang Serbaguna 1 UMKU pada Senin, 22 Juni 2026. (dok. Humas-Admisi)

KUDUS — Badan Pembina Harian (BPH), dosen, serta seluruh pegawai di lingkungan Universitas Muhammdiyah Kudus (UMKU) kembali mengikuti Pengajian rutin pada Senin, 22 Juni 2026.

Bertempat di Gedung Serbaguna 1 UMKU, pengajian kali ini mengusung tema “Meneguhkan Spirit Haji: Membangun Insan Akademik Muhammadiyah yang Berintegritas, Berkemajuan, dan Berkemanfaatan Bagi Perdaban”.

Adapun narasumber Pengajian ini adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus sekaligus anggota BPH UMKU, H. Noor Muslikan, S.Sos. dengan moderator Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMKU, Ahmad Noor Syafiq, S.S., M.Pd.

Dalam kesempatan tersebut, Muslikan mengajak seluruh civitas academica UMKU untuk memaknai ibadah haji lebih dari sekadar perjalanan fisik.

Menurutnya, terdapat nilai moral di balik ibadah haji yang dapat menjadi proses pembaruan atau “upgrade” diri guna membentuk kesalehan dan karakter yang lebih baik pasca kembali dari Tanah Suci.

Sesuai tema pengajian hari ini, Noor Muslikan membedah spirit tersebut ke dalam tiga pilar utama bagi dunia akademik, yaitu integritas, berkemajuan, dan kebermanfaatan.

Pilar pertama adalah integritas yang diibaratkan sebagai fondasi. Layaknya jemaah haji yang mengenakan dua lembar kain ihram dan tidak bisa memanipulasi keadaan saat di Arafah, insan akademik juga harus jujur dan tidak memisahkan antara ucapan dengan perbuatan.

“Akademik tanpa integritas ibarat gedung tanpa fondasi. Harus ada kejujuran, tidak melakukan plagiat, tidak memanipulasi data, serta mengutip sumber dengan jelas,” tegas Noor Muslikan.

Pilar kedua adalah “berkemajuan” yang berfungsi sebagai mesin penggerak. Civitas academica dituntut untuk tidak gagap zaman dan terus melakukan pembaruan (tajdid).

Noor Muslikan mengibaratkan hal ini dengan evolusi manajemen haji, jika dulu jemaah harus berjalan kaki, kini sudah difasilitasi kereta cepat Makkah-Madinah.

Di lingkungan kampus, wujud nyata sikap berkemajuan ini adalah dengan terus meningkatkan kompetensi.

Mahasiswa dan dosen didorong untuk menguasai teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) guna membantu riset, bukan untuk tujuan menyontek. Dengan begitu, ilmu yang diajarkan tetap relevan di tahun 2026, bukan sekadar relevan di masa lalu.

Pilar ketiga adalah kebermanfaatan bagi umat. Ia menekankan bahwa ilmu yang dikaji di Muhammadiyah tidak boleh sekadar “mangkrak di perpustakaan”.

Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan mengajar, riset, dan pengabdian harus diarahkan untuk menjawab permasalahan riil umat.

“Riset kampus hendaknya mampu memberikan solusi atas berbagai isu, seperti masalah stunting, ekonomi pesantren, hingga pengelolaan sampah plastik,” paparnya.

Hal ini sejalan dengan predikat haji mabrur, di mana jemaah yang pulang ke Tanah Air diharapkan menjadi sosok yang lebih dermawan dan peduli terhadap sesama.

Seluruh pilar tersebut, lanjut Noor Muslikan, bermuara pada satu tujuan besar, yakni membangun peradaban (khalifah di bumi).

Layaknya Nabi Ibrahim yang membangun Ka’bah bukan untuk dirinya sendiri melainkan sebagai kiblat peradaban umat hingga hari kiamat, lulusan UMKU diharapkan mampu memberikan warna dan jejak panjang yang baik bagi peradaban masyarakat.

Untuk menerapkan nilai-nilai tersebut, Noor Muslikan mengusulkan beberapa langkah praktis di lingkungan kampus.

Di antaranya adalah membudayakan kegiatan “Halaqah Ilmiah” secara rutin, memberikan penghargaan setara bagi dosen yang berdedikasi mengabdi pada warga miskin dengan dosen yang menembus publikasi Scopus, serta menghadirkan sosok dosen senior sebagai “murobbi akademik” yang bertugas mengingatkan adab dan akhlak mahasiswa.