KUDUS — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) menghadirkan ruang belajar yang edukatif, kreatif, dan inklusif bagi anak-anak yang diberi nama Rumah Asa.
Berlokasi di Aula Balai Desa Jojo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, pembukaan Rumah Asa dihadiri langsung oleh Wakil Rektor 3 UMKU Dr. Rizka Himawan, S.Psi., M.Psi., Kepala Desa bersama perangkat desa setempat, hingga mahasiswa UMKU pada Selasa, 6 Januari 2026.
Ketua Panitia Rumah Asa, Aisyah Noor Hidayati menjelaskan, Rumah Asa merupakan salah satu program kerja dari Kementeruan Sosial Masyarakat BEM UMKU. Menggandeng sejumlah volunteer, mahasiswa UMKU fokus memberikan ruang belajar edukatif bagi anak-anak.
“Melalui Rumah Asa ini, kami ingin memberikan ruang belajar bagi anak-anak yang edukatif dan kreatif, khusunya melalui kegiatan literasi, pengajaran, serta pengembangan potensi dan karakter,” ungkap Aisyah.
Ia melanjutkan, program Rumah Asa akan hadir selama satu bulan ke depan, terhitung mulai dari 6 Januari sampai dengan 5 Februari 2026.
Di hari pertama, ada 18 siswa-siswi dari SDN 1,2,3 Jojo yang mengikuti program Rumah Asa. Selama di sana, anak-anak belajar bersama para mahasiswa UMKU dengan menyenangkan. Mereka sangat semangat mengikuti setiap hal yang diajarkan mahasiswa.
“Alhamdulillah di hari pertema kemarin, anak-anak sangat antusias dan sangat bersemangat, semuanya aktif mengikuti arahan dari tim pengajar,” ungkap Aisyah.
Dengan hadirnya Rumah Asa ini, ia berharap, anak-anak di Desa Jojo bisa mengimplementasikan ilmu yang sudah didapat dan bisa mengembangkan potensi diri mereka.
Sementara itu, Kepala Desa Jojo, Syamsul Hidayat memberikan apresiasinya kepada mahasiswa UMKU atas hadirnya Rumah Asa ini. Pihaknya menilai, kegiatan Rumah Asa sangat dibutuhkan anak-anak di Desa Jojo untuk menambah wawasan hingga pengalaman.
“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. Anak-anak jadi mendapat tambahan wawasan, pengalaman, dan motivasi. Mereka bisa melihat bahwa jenjang pendidikan masih panjang dan terbuka,” katanya.
Syamsul menambahkan, meski kegiatan mahasiswa di desa kerap hadir melalui program KKN, Rumah Asa memiliki karakter berbeda karena bersifat pendampingan berkelanjutan dan fokus pada anak-anak.
”Di desa kami, Rumah Asa hadir sebagai pengingat sederhana bahwa harapan bisa tumbuh dari ruang-ruang kecil, selama ada yang mau menemani dan percaya pada potensi anak-anaknya,” pungkasnya. (NR)