KUDUS — Dosen Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) berkolaborasi dengan Pimpinan Ranting Aisyiyah Desa Kalilopo, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, menggelar program pengabdian masyarakat untuk menghidupkan kembali fungsi Bank Sampah. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomis bagi warga setempat.
Program ini berfokus pada penanganan sampah plastik, khususnya botol dan gelas bekas yang selama ini menjadi permasalahan lingkungan. Melalui edukasi dan pendampingan, warga diajak untuk mulai memilah sampah langsung dari rumah.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Tuti Nadhifah, S.E., M.E., mengungkapkan bahwa menghidupkan kembali bank sampah adalah langkah strategis untuk mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan limbah.
“Kami berupaya menghidupkan kembali fungsi bank sampah agar lebih aktif dan produktif. Tujuannya agar sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi juga sebagai peluang ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi warga,” ujar Tuti.
Dalam pelaksanaannya, tim yang beranggotakan Dian Rosita, S.Kom., S.H., M.H., Anisa Solichati, S.Pd., M.T., dan Heni Risnawati, S.E., M.Si., Akt. ini, memberikan sosialisasi mengenai mekanisme pengelolaan bank sampah. Warga diajarkan cara mengumpulkan, memilah, hingga menyalurkan sampah plastik yang memiliki nilai jual.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Sherly Nur Ekawati, S.Tr.Kes., M.Kes. ini juga melibatkan mahasiswa UMKU. Para mahasiswa berperan aktif mendampingi ibu-ibu rumah tangga dalam praktik pengelompokan sampah plastik agar siap ditabung di bank sampah.
Kolaborasi dengan Aisyiyah Desa Kalilopo menjadi kunci dalam menggerakkan partisipasi masyarakat. Sebagai organisasi perempuan, Aisyiyah dinilai efektif dalam menyentuh level rumah tangga untuk mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi budaya memilah.
Respons positif pun datang dari warga Desa Kalilopo. Masyarakat merasa terbantu dengan adanya pendampingan ini karena kini mereka memiliki wadah untuk mengelola sampah yang sekaligus bisa menambah pemasukan ekonomi keluarga.
“Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi juga sebagai sumber nilai ekonomi,” tegasnya.
Melalui program ini, UMKU menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Sinergi antara akademisi dan masyarakat ini diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain di Kabupaten Kudus dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Humas UMKU)